Selasa, 05 Maret 2013

Asuhan Pada Bayi Segera Setelah Lahir Dan Pendokumentasian Asuhan Persalinan



A.    Memberikan asuhan pada bayi segera setelah lahir
a.       Pemeliharaan pernapasan
            Semua tenaga kesehatan yang bekerja di kamar bersalin hendaknya terlatih mengenai teknik penilaian dan resusitasi. Kalau faktor resiko meningkatkan kemungkinan kelahiran bayi yang depresi, dokter anak yang terlatih mengenai resusitasi neonatal harus dipanggil. Setelah kelahiran neonatus yang normal perhatian harus ditujukan pada langkah-langkah penting berikut untuk memastikan adaptasi neonatal yang optimal. Hal yang perlu diperhatikan adalah :
1.      Membersihkan saluran napas
            Penanganan bayi dilakukan sejak kepala mulai keluar dari jalan lahir yaitu dengan melakukan pembersihan lendir serta cairan yang berada disekitar mulut dan hidung dengan kapas dan kain kasa steril. Kemudian kedua kelopak matanya dibersihkan dengan kapas atau kain kasa steril satu demi satu. Dimulai dari luar kedalam. Sesudah bayi lahir segera dicatat dengan jam waktu ( stop – watch ). Kemudian kedua kaki bayi dipegang dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain memegang kepala bayi yang lebih rendah dengan sudut ± 300 dari pada kaki dengan posisinya ekstensi sedikit untuk memungkinkan cairan atau lendir mengalir keluar dari trakhea dan faring. Sementara itu seorang membantu mengisap lendir dan cairan dengan alat pengisap lendir.( Sumarah, 2008).
            Proses penurunan melalui jalan lahir menyebabkan kompresi dinding dada mengakibatkan pembuangan cairan dari mulut dan hidung. Bila kepala keluar dari vagina dokter harus menggunakan handuk atau kain kassa untuk membuang sekresi dari faring lewat mulut. Penyedot lendir tidak boleh digunakan untuk penyedotan hidung karena perangsangan hidung dapat menginisiasi hembusan nafas dan dapat menyebabkan terjadinya bradikardi dan juga dapat menyebabkan aspirasi mekonium.
            Bayi normal akan menangis dalam 30 detik. Tidak perlu dilakukan tindakan apapun karena bayi mulai bernafas spontan dan warna kulitnya kemerah-merahan. Kemudian bayi diletakkan mendatar kira-kira sama tingginya dengan atau sedikit dibawah introitus vagina. Bila mulut bayi masih belum bersih dari cairan dan lendir, pengisapan lendir diteruskan,mula-mula dari mulut,kemudian dari lubang hidung supaya jalan nafas bebas dan bayi dapat bernafas sebaik-baiknya. Lambung bayi pun perlu diisap untuk mencegah adanya inhalasi of the vomit. Apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut :
·     Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat
·     Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah kebelakang.
·     Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus dengan kasa steril
·     Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi akan segera menangis.( Varney, 2004)

2.      Memastikan permulaan pernapasan
      Pernapasan biasanya dimulai beberapa detik dari kelahiran tetapi mungkin tertunda selama 60 detik. Bila tak ada data klinik untuk menunjukkan suatu kelainan (hipoksia- asidosis) yang terbaik biasanya mngambil kebijaksanaan untuk menunggu dan memberi kesempatan kepada bayi untuk bernapas secara spontan.

3.      Membuat saluran napas
      Pada setiap bayi dengan kemungkinan asfiksia yang tinggi maka penyedotan saluran nafas harus dimulai setelah kelahiran kepala. Bayi yang mengalami sesak nafas biasanya mempunyai mekonium yang terdapat dalam saluran nafas bagian atas yang harus dibersihkan dengan keteter penyedot oral sebelum kelahiran bahu. Segera setelah kelahiran bayi suatu pipa endotrakeal harus segera dimasukan untuk membuang lendir yang kental atau mekonium dari trakea dan saluran nafas bagian atas.

4.      Memulai pernapasan
      Setelah jalan  napas dibuat, ventilasi kantung maskar atau ventilasi lewat pipa endotrakeal harus diinisiasi untuk memberikan oksigen ke paru-paru. Biasanya frekuensi denyut jantung meningkat dengan cepat setelah apnea dikoreksi dan ventilasi kantong masker (Bag mask) berkala dengan oksigen tambahan dapat diberikan hingga pernapasan spontan dimulai.(Saefudin, 2002)
            Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan otak oleh sebab itu sangat penting membersihkan jalan napas sehingga bayi upaya bayi bernapas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir (masuknya lendir ke paru-paru).
·         Alat penghisap lendir mulut (de lee) atau alat penghisap lainnya yang steril tabung oksigen dengan selangnya harus telah siap ditempat.
·         Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
·         Petugas harus memantau dan mencatat usaha nafas yang pertama.
·         Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan.
Bantuan untuk memulai pernapasan mungkin diperlukan untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat. Dokter atau tenaga medis lain hendaknya melakukan pemompaan bila setelah satu menit bayi tidak bernapas.( Nelson, 2000)
b.      Perlindungan termal
            Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit. Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya.
            Bayi dengan hipotermi sangat beririko tinggi mengalami kesakitan berat bahkan kematian. Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun didalam ruangan yang relatif hangat.

Cegah kehilangan panas pada bayi dengan upaya antara lain: 
1.      Keringkan bayi dengan seksama 
      Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas yang disebabkan oleh evaporasi atau cairan ketuban pada tubuh bayi keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan diatas perut ibu. Mengeringkan dengan menyeka tubuh bayi juga merupakan rangsangan taktil untuk memulai bayi memulai pernafasannya. 
2.      Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat 
      Segera setelah mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat ganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban kemudian selimuti tubuh bayi dengan selimut atau kain yang hangat kering dan bersih. Kain basah didekat tubuh bayi dapat menyerap panas tubuh bayi melalui proses radiasi. Ganti handuk, selimut atau kain yang telah basah diganti dengan selimut atau kain yang baru ( hangat, bersih dan kering ) 
3.      Selimuti bagian kepala bayi 
      Bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup. 
4.      Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya 
      Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas dan anjurkan ibu untuk menyusui bayinya segera setelah lahir sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran.
5.      Cara menimbang dan memandikan bayi baru lahir 
      Karena bayi baru lahir cepat kehilangan panas tubuhnya ( terutama jika tidak berpakaian ). Sebelum melakukan penimbangan selimut bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dihitung dari selisih berat bayi saat berpakaian / diselimuti dikurangi berat kain / selimut. Bayi sebaiknya dimandikan 6 jam setelah lahir. Memandikan bayi pada jam pertama setelah kelahiran dapat menyebabkan hipotermi yang sangat membahayakan kesehatannya. 
6.      Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat 
      Idealnya bayi yang baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya cara ini adalah cara paling mudah untuk menjaga bayi tetap hangat.

            Empat kemungkinan mekanisme yang dapat menyebabkan bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya, antara lain :
1.      Konduksi
      Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang kontak langsung dengan tubuh bayi ( pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung ). Konduksi bisa terjadi ketika menimbang bayi tanpa alas timbangan, memegang bayi saat tangan dingin dan menggunakan stetoskop dingin
2.      Konveksi
      Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang bergerak ( jumlah panas yang hilang bergantung pada kecepatan dan suhu udara ). Konveksi dapat terjadi ketika membiarkan atau menempatkan bayi baru lahir di ruangan yang terpasang kipas angin
3.      Radiasi
      Panas dipancarkan dari bayi baru lahir keluar tubuhnya ke lingkungan yang lebih dingin ( pemindahan panas antara 2 objek yang mempunyai suhu berbeda ). Contohnya yaitu membiarkan bayi dalam ruangan AC tanpa diberikan pemanas,  membiarkan bayi dalam keadaan telanjang atau menidurkan bayi dengan ruangan dingin ( dekat tembok )
4.      Evaporasi
      Panas hilang melalui proses penguapan yang bergantung pada kecepatan dan kelembapan udara ( perpindahan panas dengan cara mengubah cairan menjadi uap ). Evaporasi ini dipengaruhi oleh jumlah panas yang dipakai, tingkat kelembapan udara dan aliran udara yang melewati. Apabila bayi dibiarkan dalam suhu kamar 250 C, maka bayi akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi dan evaporasi yang besarnya 200 kq/ BB. Sedangkan yang dibentuk hanya 1/10 saja.
            Bayi dapat menciptakan panas dengan 3 cara :
1.      Menggigil
      Menggigil dilakukan apabila neonatus mempunyai suhu tubuh yang berada dalam bawah normal sehingga untuk mengadaptasikan neonatus menggigil. Hal ini juga dapat dijadikan tanda bahwa neonatus mengalami tanda bahaya.
2.      Aktivitas otot fakultatif
      Aktivitas otot dapat menghasilkan panas tetapi terbatas pada bayi dengan kekuatan otot yang cukup untuk berada pada posisi yang udah digerakkan.
3.      Non shivering thermogenesis
      Non shivering thermogenesis mengacu pada pemanfaatan lemak coklat (brown fat) untuk produksi panas.
            Neonatus memiliki jaringan adipose coklat yang membantu metabolisme sumber panas disebut asam lemak bebas dan gliserol dengan cepat saat terjadi stress akibat dingin. Mekanisme ini disebut pembentukan panas tanpa menggigil / non shivering thermogenesis ( Dawkins & Hull, 1964). Sebagian besar produksi panas bayi berasal dari metabolisme lemak coklat. Istilah lemak coklat mengacu pada lemak yang berwarna merah kecoklatan disebabkan oleh tingginya vaskularisasi di jaringan tersebut. Lemak kecoklatan disimpan di lipatan di seluruh tubuh bayi. Sebagian besar lemak coklat disimpan di sekitar leher, sepanjang garis columna spinalis diantara scapula yang melintas garis clavikula dan menuju sternum. Lemak tersebut juga mengelilingi pembuluh toraksik mayor dan membantali ginjal (Hold Srovt, 1980).
c.       Evaluasi nilai APGAR
            Skor Apgar atau nilai Apgar ( Apgar score) adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran.
            Penilaian keadaan umum bayi dinilai satu menit setelah bayi lahir dengan menggunakan APGAR. Penilaian ini perlu untuk menilai bayi apakah asfiksia atau tidak, adapun penilaian meliputi penilaian jantung, asuhan napas, tonus otot, warna kulit dan reaksi terhadap rangsangan.
Penilaian
Nilai = 0
Nilai = 1
Nilai = 2
Jumlah NA
Warna kulit
pucat
Badan merah, ekstremitas biru
Seluruh tubuh kemerah – merahan

Frekuensi nadi
Tidak ada
Kurang dari 100
Lebih dari 100

Reaksi rangsangan
Tidak ada
Sedikit gerakan mimik
Batuk / bersin

Tonus otot
Tidak ada
Ekstremitas dalam sedikit fleksi
Gerakan aktif

Pernafasan
Tidak ada
Lemah / tidak teratur
Baik / menangis

d.      Resusitasi
            Pada asfiksia ringan apnea merupakan gejala klinik utama. Pada kasus-kasus yang berat bayi baru lahir tampak lunglai dan pucat dengan tekanan darah rendah dan denyut jantung lambat.
Tujuan resusitasi menurut Myles (2009) yaitu :
1.      Menetapkan dan mempertahankan kebersihan jalan nafas dengan ventilasi dan oksigenasi.
2.      Memastikan sirkulasi efektif.
3.      Mengoreksi asidosis
4.      Mencegah hipotermia, hipoglikemia dan perdarahan

            Pada kebanyakan pelayanan kesehatan menetapkan kebijaksanaan baku untuk menghisap faring segera setelah muka menyembul keluar dengan memakai masker isap atau ekstrafaktor mucus. Hal ini hamper tidak diperlukan lagi kecuali cairan amnion tercemar dengan mekonium atau darah. Bayi dapat dirangsang untuk bernapas dengan stimulasi kulit misalnya sentilan kaki. Untuk bayi yang tidak segera bernapas pada periode ini harus segera diberikan pertolongan resusitasi. Pertama – tama periksa upaya napas. Bila ada dan barang kali dengan gerak berlebihan tetapi tidak timbul perubahan tidal, maka ini nerarti ada sumbatan jalan napas dan ini bisa diatasi dengan ekstensi leher bayi. Tetapi bila ada sumbatan akan berlanjut sampai dipasang pipa jalan napas. Jika upaya napas lemah atau tidak ada sama sekali hitung denyut jantung 10 – 15 detik dengan stetoskop. Bila denyut jantung lebih dari 80 x permenit, ulangi stimulasi kulit jika gagal lakukan resusitasi dengan sungkup muka. Inflasi paru bayi dilakukan dengan laju kira – kira 30 permenit 1 daur = 1 detik. Jika denyut jantung turun dibawah 80 per menit segera lakukan intubasi trakeal.

e.       Pemotongan tali pusat
            Pemotongan dan pengikatan tali pusat menyebabkan pemisahan fisik terakhir antara ibu dan bayi. Pemotongan sampai denyut nadi tali pusat terhenti dapat dilakukan pada bayi normal sedangkan pada bayi gawat perlu dilakukan pemotongan tali pusat secepat mungkin agar dapat dilakukan resusitasi sebaik – bainya.
1.      Cara memotong tali pusat
·         Tali pusat dipotong sebelum dan sesudah placenta lahir tidak begitu menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi kecuali pada bayi kurang bulan
·         Bila bayi lahir tidak menangis maka tali pusat segera dipotong untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi pada bayi
·         Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikat dengan pengikat steril
·         Apabila masih ada terjadi perdarahan dapat dibuatkan ikatan baru
·         Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alcohol 70 % atau povion iodine 10 % serta dibalut kasa steril
·         Pembalut tersebut diganti setiap hari atau setiap kali basah atau kotor
·         Sebelum memotong tali pusat pastikan bahwa tali pusat telah di klem dengan baik untuk mencegah terjadi perdarahan
·         Membungkus ujung potongan tali pusat
·         Alat pengikat tali pusat / klem / gunting harus selalu siap
·         Pantau kemungkinan terjadinya perdarahan tali pusat

2.      Memberi obat tetes mata / salaf mata
·         Peralatan untuk perawatan mata harus dipersiapkan di ruang penerimaan / persalinan, ruang rawat bayi termasuk :
-          Obat – obatan seperti eritromycin 0,5 % atau tetracyvlin 1 %
-          Perlengakapan berisi alat tetes mata, gelas obat kecil steril dan kapas
-          Cairan NaCl untuk irigasi mata hendaknya secara rutin memantau perubahan warna cairan obat, bila terjadi perubahan tidak dapat digunakan lagi
-          Petugas hendaknya melihat adanya Kristal yang timbul dalam cairan penetes bila suhu ruangan melebihi 340 C

f.       Adaptasi fisiologi bayi baru lahir terhadap kehidupan diluar uterus
            Penelitian menunjukan bahwa 50 % kematian bayi terjadi pada periode neonatal yaitu di bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainan – kelainan mengakibatkan cacat seumur hidup bahkan kematian. Sebagai contoh bayi yang mengalami hipotermi akan menyebabkan hipoglikemia dan dapat terjadi kerusakan otak. Pencegahan merupakan hal yang tebaik yang harus dilakukan dalam penanganan neonatal sehingga neonates sebagai individu yang harus menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterin dapat bertahan dengan baik karena periode neonatal merupakan periode yang paling kritis dalam fase pertumbuhan dan perkembangan bayi.
            Transisi dari kehidupan di dalam kandungan ke kehidupan luar kandungan merupakan perubahan drastis dan menuntut perubahan fisiologis yang bermakna dan efektif oleh bayi guna memastikan kemampuan bertahan hidup. Adaptasi bayi terhadap kehidupan diluar kandungan meliputi :
1.      Awal pernapasan
            Pada saat lahir bayi berpindah tempat dari suasana hangat dilingkungan rahim ke dunia luar tempat dilakukannya peran eksistensi mandiri. Bayi harus dapat melakukan transisi hebat ini dengan tangkas. Untuk mencapai hal ini serangkaian fungsi adaptif dikembangkan untuk mengakomodasi perubahan drastis dari lingkungan di dalam kandungan ke lingkungan diluar kandungan (Myles, 2009).

2.      Adaptasi paru
            Hingga saat lahir tiba janin bergantung pada pertukaran gas daerah maternal melalui paru maternal dan placenta. Setelah pelepasan placenta yang tiba-tiba setelah pelahiran adaptasi yang sangat cepat terjadi untuk memastikan kelangsungan hidup. Sebelum lahir janin melakukan pernapasan dan menyebabkan paru matang menghasilkan surfaktan dan mempunyai alveolus yang memadai untuk pertukaran gas. Sebelum lahir paru janin penuh dengan cairan yang diekskresikan oleh paru itu sendiri. Selama kelahiran cairan ini meninggalkan paru baik karena dipompa menuju jalan napas dan keluar dari mulut dan hidung atau karena bergerak melintasi dinding alveolar menuju pembuluh limfa paru dan menuju duktus toraksis (Myles, 2009).

3.      Adaptasi kardiovaskular
            Sebelum lahir janin hanya bergantung pada placenta untuk semua pertukaran gas dan ekskresi sisa metabolik. Dengan pelepasan placenta pada saat lahir sistem sirkulasi bayi harus melakukan penyesuaian mayor guna mengalihkan darah yang tidak mengandung oksigen menuju paru untuk direoksigenasi. Hal ini melibatkan beberapa mekanisme yang dipengaruhi oleh penjepitan tali pusat dan juga oleh penurunan resistensi bantalan vaskular paru.
            Selama kehidupan janin hanya sekitar 10% curah jantung dialirkan menuju paru melalui arteri pulmonalis. Dengan ekspansi paru dan penurunan resistensi vaskular paru hampir semua curah jantung dikirim menuju paru. Darah yang berisi oksigen menuju kejantung dari paru meningkatkan tekanan di dalam atrium kiri. Pada saat yang hampir bersamaan tekanan di atrium kanan berkurang karena darah berhenti mengalir melewati tali pusat. Akibatnya, terjadi penutupan fungsional foramen ovale. Selama beberapa hari pertama kehidupan penutupan ini bersifat reversibel, pembukaan dapat kembali terjadi bila resistensi vaskular paru tinggi misalnya saat menangis yang menyebabkan serangan sianotik sementara pada bayi. Septum biasanya menyatu pada tahun pertama kehidupan dengan membentuk septum intra atrial meskipun pada sebagian individu penutupan anatomi yang sempurna tidak pernah terjadi.

4.      Adaptasi suhu
            Bayi memasuki suasana yang jauh lebih dingin pada saat pelahiran dengan suhu kamar bersalin 21°C yang sangat berbeda dengan suhu dalam kandungan yaitu 37,7°C. Ini menyebabkan pendinginan cepat pada bayi saat cairan amnion menguap dari kulit. Setiap ml penguapan tersebut memindahkan 560 kalori panas. Perbandingan antara area permukaan dan masa tubuh bayi yang luas menyebabkan kehilangan panas khususnya dari kepala yang menyusun 25% masa tubuh. Lapisan lemak subkutan tipis dan memberikan insulasi tubuh yang buruk yang berakibat cepatnya perpindahan panas inti ke kulit kemudian lingkungan dan juga mempengaruhi pendinginan darah. Selain kehilangan panas melalui penguapan, kehilangan panas melalui konduksi saat bayi terpajang dengan permukaan dingin dan melalui konveksi yang disebabkan oleh aliran udara dingin pada permukaan tubuh.

g.      Bounding attachment
            Secara harfiah kata Bounding dapat diartikan sebagai ikatan dan attachment adalah sentuhan. Attachment adalah proses penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberi dukungan asuhan dalam perawatannya. Bounding adalah masa sensitive pada menit pertama dan beberapa jam setelah dan kelahiran dimana kontak ibu dan ayah ini akan menentukan tumbuh kembang anak menjadi optimal.
Selain pengertian tersebut bounding attachment dapat di artikan pula sebagai berikut :
1.      Bounding attachment  adalah interaksi orang tua dan bayi secara nyata baik fisik, emosi dan sensorik pada menit – menit dan jam – jam pertama segara setalah bayi lahir, ( Klause dan Kennel,1983 ).
2.      Bounding menurut Nelson ( 1986 ) adalah dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara ornag tua dan bayi segera setelah lahir, sedangkan Attachment adalah ikatan yang terjalin diantara individu meliputi pencurahan perhatian, hubunngan emosi dan fisik yang akrab.
3.       Menurut Bennet dan Brown ( 1999 ) pengertian Bounding adalah terjadinya hubungan orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, sedangkan attachment adalah pencurahan kasih sayang diantara individu.
4.      Bounding Attachment adalah permulaan saling mengikat  antara orang-orang seperti antara orang tua dan anak pad pertemuan pertama, ( Brozelton dalam Bobak, 1995 ).
5.      Parmi ( 2000 ) mendefinisikan sebagai suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling menrespon antara orang tua dan bayi lahir.
6.      Menurut Perry ( 2002 ) Bounding adalah proses  pembentukan attachment atau bangunan ikatan, dan Attachment adalah suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan denga kualitas – kualitas khusus yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.
7.      Bounding Attachment yaitu suatu peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterkaitan batin antara oranng tua dan bayi, ( subroto Cit Lestari, 2002 ).

Tahap – tahap bounding attachment :
1.      Perkenalan
Sentuhan, mengajak bicara dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya
2.      Ketertarikan
3.      Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain
            Kesuksesan bounding dan attachment antara ibu dan anak selama periode awal masa anak ( usia 0 – 3 ), merupakan dasar untuk terbentuknya hubungan yang sehat bagi anak dalam kehidupan selanjutnya. Bagi anak usia 0 – 6 bulan, kurang interaksi dengan ibunya dalam pembentukan ikatan akan menimbulkan penyimpangan pola perilaku seperti : menarik diri, menyakiti diri sendiri atau orang lain dan sebagainya. Jika keadaan ini tidak segera diatasi, maka akan memunculkan problem – problem perilaku pada tahap perkembangan selanjutkan. Menurut Steel dan Pollack : Dalam proses terdapat dua komponen yang mempengaruhi fungsi keibuan, dua komponen tersebut adalah :
1.      Keterampilan kognitif – motorik meliputi aktivitas perawatan anak seperti menyusui, menggendong, mengganti pakaian, memandikan dan melindungi dari bahaya.
2.      Keterampilan afektif meliputi perilaku – perilaku kelembutan, perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan anak disini emosional ibu memegang peranan yang sangat besar. Kedua komponen tersebut berpengaruh terhadap penyediaan lingkungan, dimana kebiasaan terhadap perawatan anak dipraktekkan.
      Respon – respon berikut merupakan respon yang terjadi antara ibu dan bayi sejak terjadi kontak awal hingga tahap perkembangan selanjutnya, yaitu :
1.      Touch ( sentuhan )
      Sebuah penelitian menunjukan bahwa dalam kontak pertama antara ibu dan bayinya terjadi perilaku menyentuuh tanpa kecuali pada ibu muda atau tua, primipara atau multipara, menikah atau tidak. Ibu memulai dengan sebuah ujung jarinya memeriksa bagian kepala dan ekstermitas bayinya. Dalam waktu singkat secara terbuka perabaan digunakan untuk membelai tubuh, dan mungkin bayi akan dipeluk dilengan ibu, gerakan dilanjutkan sebagai usapan lembut untuk menenangkan bayi, bayi akan merapat pada payudara ibu, menggenggam satu jari atau seuntai ranbut dan terjadilah ikatan antara keduanya.

2.      Eye to eye contact ( kontak mata )
      Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakkukan kemudian dengan segera sebagian ibu berpendapat bahwa sesuatu dari bayinya terdapat kemiripan dengan dirinya dan mereka sangat dekat sekali. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya



3.      Odor ( bau badan )
      Perilaku lain antara ibu dan bayi yang sangat responsive adalah bau badan masing – masing diantara mereka. Para ibu berpendapat terhadap bau badan bayi saat lahir dan dicatat bahwa tiap anak mempunyai bau badan berasal darinya. Hal ini terjadi lebih awal dimana bayi belajar secara cepat untuk mengenal bau badan ibunya dari dari air susu ibunya sendiri.

4.      Body warm ( kehangatan tubuh )
      Ibu dan bayi tampak menikmati saat saling berbagi kehangatan tubuh masing-masing. Peneliti telah membutikan bahwa bayi tidak kehilangan panas tubuhnya jika perlindungan yang layak diberikan misalnya jika di keletakkan diatas perut ibunya setelah lahir dan di keringkan segera. Bayi tampak nyaman bersentuhan dengan kehangatan tubuh ibunya.

5.      Voice ( suara )
      Hal lain yang menarik perhatian adalah respon antara ibu – bayi yang berupa suara masing – masing. Yang dinantikan orang tua adalah tangisan pertama bayi. Dari tangisan tersebut ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik-baik saja ( hidup ), dan selanjutnya dapat memulai tingkah laku mengenali suara masing – masing. Bayi akan terjaga saat orang tua berbicara  dengan suara yang tinggi dan menoleh kearah mereka.

6.      Entrainment ( logat )
      Bayi yang baru lahir menemukan perubahan structur pembicaraan dari orang dewasa ( Condon dan Sander, 1974 ). Artinya bahwa bayi sudah berkembang yang ditentukan secara kultur dalam berbicara jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara ( logat ).



7.      Biorhythmicity ( irama kehidupan )
      Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah bayinya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugasnya setelah lahir, sehingga dicatat lebih awal adalah untuk menyatakan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat mambantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar.

h.      Pemberian ASI awal
            Seringkali kita menemukan fakta bahwa setelah seorang ibu melahirkan dia tidak langsung menyusui bayinya entah karena alasan pihak penolong (bidan/dokter/ perawat/ ketentuan RS) supaya ibunya dibiarkan istirahat terlebih dahulu, ataupun dari ibu sendiri yang kurang memiliki motivasi kuat untuk segera menyusui bayinya. Padahal selama 20-30 menit pertama setelah kelahiran bisa disebut Golden period bagi ibu juga terutama bagi sang bayi.
            Bayi normal disusui segera setalah lahir. Lamanya disusui hanya untuk satu atau dua menit pada setiap payudara ibu. Dengan adanya reflex sucking (mengisap) pada bayi menyebabkan terjadi perangsangan terhadap pembentuka air susu ibu yang secara tidak langsung rangsangan isap membantu mempercepat pengecilan uterus. Walaupun air susu ibu yang berupa kolostrum itu hanya dapat diisap beberapa tetes ini sudah cukup untuk kebutuhan bayi dalam hari-hari pertama. Kadang-kadang ibu keberatan untuk menyusui bayinya dengan alasan asi belum keluar. Dalam hal ini ibu harus diberi penjelasan sebaik-baiknya tentang maksud dan tujuan pemberian ASI sedini mungkin. Pada hari ketiga bayi sudah harus menyusu selama 10 menit pada mammae ibu dengan jarak waktu tiap 3 menit. Apabila diantara waktu itu bayi menangis karena lapar, ia boleh disusui pada satu mamma secara bergantian. Dengan demikian kebutuhan on demand dapat dipenuhi, hal ini dapat dilaksanakan bila bayi dirawat bersama ibunya. Bayi yang pada permulaan minum on demand, pada minggu-minggu berikutnya sudah dapar dipenuhi kebutuhannya dengan minum setiap 3-4 jam. 

Pemberian ASI harus dianjurkan pada ibu yang melahirkan karena : 
1.      ASI yang pertama (kolostrum) mengandung beberapa antibodi yang dapat mencegah infeksi pada bayi. ASI diperkirakan dapat mengirimkan limfosit ibu ke dinding usus bayi dan memulai proses imunologik sehingga memberikan imunitas pasif pada bayi terhadap penyakit infeksi tertentu hingga mekanisme itu sepenuhnya berfungsi setelah 3 sampai 4 bulan.
2.      Bayi yang minum ASI jarang menderita gastroenteritis. 
3.      Lemak dan protein ASI mudah dicerna dan diserap secara lengkap baik untuk pertumbuhan serta tidak mungkin menyebabkan kegemukan.
4.      Kemungkinan bayi menderita kejang oleh karena hipokalsemia sangat sedikit.
5.      Pemberian ASI merupakan satu-satunya jalan yang paling baik untuk mengeratkan hubungan ibu dan bayi, dan ini sangat dibutuhkan bagi perkembangan bayi yang normal terutama pada bulan-nulan pertama kehidupannya.
6.      Menyusui mempercepat involusi uterus karena pengisapan puting susu akan merangsang pelepasan oksitosin sehingga menyebabkan peningkatan kontraksi uterus.

B.     Pendokumentasian hasil asuhan persalinan
      Dokumentasi asuhan kebidanan adalah bentuk pencatatan dan pelaporan yang dimiliki perawat/ bidan dalam melakukan catatan yang berguna untuk kepentingan klien, bidan dan tim kesehatan. Sedangkan pendokumentasian merupakan tindakan membuat pencatatan sebagai bukti otentik yang dapat dijadikan bukti dalam persoalan hukum.
      Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian mengenai asuhan yang akan dan telah di lakukan pada seorang pasien di dalamnya tersirat proses berfikir bidan yang sistemmatis dalam menghadapi seorang pasien sesuai langkah-langkah manajemen kebidanan.
Teknik pendokumentasian manajemen kebidanan, antara lain :
1.      Mengumpulkan data
            Data yang dikumpulkan pada ibu bersalin adalah biodata, data demografi, riwayat kesehatan, riwayat mentruasi, riwayat obstetric dan ginekologi, masa nifas dan laktasi, riwatat biopsikososialspiritual, pengetahuan, pemeriksaan fisik, pemeriksaaan khusus dan penunjang sepert lab, radiologi dan USG.
2.      Interpretasi data dasar
            Tahap ini dilakukan dengan melakukan interprestasi data dasar tehadap kemungkinan diagnosis yang akan ditegakkan dalam batas diagnosis kebidanan intranatal.
Contoh : G2P1A0 hamil 39 minggu. Inpartu kala I fase aktif. Masalah : wanita dengan kehamilan yang tidak diinginkan atau takut menghadapi persalinan.
3.      Identifikasi diagnosis dan masalah potensial
            Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi berdasarkan Diagnosis atau masalah yang sudah diiidentifikasi.
Sebagai contoh :  ibu F MRS diruang bersalin dengan pemuaian uterus  yang berlebihan, bidan harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pemuaian uterus yang berlebihan seperti adanya hidramnion, makrosomi, kehamilan ganda, sehingga diagnosis dan masalah potensial dapat teridentifikasi sekaligus mempersiapkan penanganannya.
4.      Identifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
            Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan melakukan konsultasi serta kolaborasi dengan tim kesehatan lain berdasarkan kondisi pasien. Sebagai contoh : ditemukan adanya perdarahan antepartum, adanya distosia bahu atau bayi dengan APGAR skor rendah. Maka tindakan segera yang dilakukan adalah tindakan sesuai dengan standar profesi bidan dan apabila perlu tindakan kolaboratif seperti adanya preeklamsia berat maka harus segera dikolaborasi dengan dokter specialis obgin.
5.      Merencanakan asuhan yang menyeluruh
            Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan temuan pada langkah sebelumnya.
            Rencana asuhan yang dilakukan secara menyeluruh adalah berdasarkan hasil identifikasi masalah dan diagnosis serta dari kebutuhan pasien. Secara umum rencanan asuhan yang menyeluruh pada tahap intranatal adalah sebagai berikut :
a)      Kala I (dimulai dari his persalinan yang pertama sampai pembukaan servik menjadi lengkap)
·         Bantulah ibu dalam masa persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan, dan kesakitan. Caranya memberikan dukungan dan motivasi dan berikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalianan dan dengarkan keluhannya, dan kemudian cobalah untuk lebih sensitive terhadap perasaannya.
·         Jika ibu tampak merasa sakit, dukungan atau asuhan yang dapat diberikan adalah dengan melakukan perubahan posisi,yaitu posisi sesuai keinginan ibu
·         Penolong tetap menjaga privasi ibu dalam persalianan dengan cara menggunakan penutup atau tirai dan tidak menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan atau seizin ibu.
·         Menjelaskan kemajuan persalianan dan perubahan yang terjadi secara procedural yang akan dilaksanakan dan hasil pemeriksaan.
·         Memperbolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannyasetelah buang air besar atau kecil
·         Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak mengeluarkan keringat, maka gunakan kipas angin dan menganjurkan ibu untuk mandi sebelumnya.
·         Untuk memenuhi kebutuhan cairan ibu dan mencegh dehidrasi, berikan cukup minum
·         Sarankan ibu untuk buang air kecil sesering mungkin
·         Lakukan pemantauan TTV, denyut jantung janin, kontraksi, dan pembukaan servik. Sedangkan pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan selama 4 jam sebelum kala I pada persalinan, dan kemudian dokumentasikan hasil temuan pada partograf
b)      Kala II (dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi)
·         Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu dengan mendampingi ibu agar merasa nyaman dengan menawarkan minum atau memijat
·         Menjaga kebersihan ibu agar terhindar dari infeksi. Bila terdapat darah lender atau cairan ketuban segera dibersihkan.
·         Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu dengan cara menjaga privasi ibu.
·         Mengatur posisi ibu dan membimbing mengejan dengan posisi berikut : jongkok, menugging, tidur miring, dan setenga duduk
·         Mengatur posisi agar rasa nyeri berkurang, mudah mengejan, menjaga kandung kemih tetap kosong, menganjurkan berkemih sesering mungkin, memberikan cukup minum untuk memberi tenaga dan mecegah dehidrasi
c)      Kala III ( dimulai dari lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta)
·         Melaksanakan manajemen aktif kala III
·         Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum lahir juga dalam waktu 15 menit, berikan oksitosin 10 unit.
·         Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum lahir juga dalam waktu 15 menit, periksa kandung kemih dan lakukan kateterisasi, periksa adanya tanda pelepasan plasenta, berikan oksitosin 10 unit dosis ketiga dan periksa suhu dengan seksama dan jahit semua robekan pada servik dan vagina kemudian perbaiki episiottomi/
d)     Kala IV ( mulai plasenta lahir sampai satu jam)
·         Periksa fundus uteri setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat masase uterus sampai menjadi keras
·         Periksa TTV, kandung kemih, dan perdaraha setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua.
·         Anjurkan ibu untuk minum untuk mencegah dehidrasi
·         Bersikan perineum ibu dan kenakan pakaian yang bersih dan kering
·         Biarkan ibu beristirahat, bantu ibu pada posisi yang nyaman, biarkan bayi dengan ibu untuk meningkatkan hubungan bayi dengan ibu.
·         Melaksanakan perencanaan
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efektif dan aman yang dibatasi oleh standart asuhan kebidanan pada masa intranatal
·         Evaluasi. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan. Evaluasi pada masa intanatal dapat digunakan SOAP sebagai berikut.
S : data subjektif
Berisi data dari pasien anamnesis yang merupakan ungkapan kangsung
O : data objektif
Data yang didapat dari hasil observasi melalui pemeriksaan fisik selama masa intranatal.
A : analisis dan interprestasi
Berdasarkan data yang terkumpul dan dibuat kesimpulan yamg meliputi diagnosis, antisipasi diagnosis atau masalah potensial, serta perlu tidaknya tindakan segera
P : perencanaan
Merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan termasuk asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis atau laboratorium, serta konseling untuk tindak lanjut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar